Blog

losandes.biz: Asalusul Deteksi Kebohongan Sampai Berkembang Alat Lie Detector


Dalam era yang terus berkembang dengan pesat, informasi telah menjadi komoditas yang tak ternilai harganya. Dari revolusi digital hingga transformasi teknologi, dunia kita kini tenggelam dalam lautan informasi yang tak pernah kering. Artikel ini mengajak kita untuk melangkahkan kaki ke dalam kompleksitas tatanan informasi saat ini, mengeksplorasi tantangan dan peluang yang muncul dalam mengelola dan memahami gelombang informasi yang terus menggulung. Dari algoritma cerdas hingga arus berita yang tak kenal lelah, mari kita telaah bersama bagaimana kita dapat menjadikan informasi sebagai alat untuk mendobrak batasan dan memahami dunia di sekitar kita dengan lebih baik.

Berikut adalah artikel atau berita tentang Harian losandes.biz dengan judul losandes.biz: Asalusul Deteksi Kebohongan Sampai Berkembang Alat Lie Detector yang telah tayang di losandes.biz terimakasih telah menyimak. Bila ada masukan atau komplain mengenai artikel berikut silahkan hubungi email kami di [email protected], Terimakasih.

TEMPO.CO, Jakarta – Pusat Laboratorium Forensik Polri mengumumkan hasil uji poligraf untuk deteksi kebohongan atau lie detector terhadap Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf, jujur atau No Deception Indicated.

Tersangka lainnya dalam kasus kematian Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat, Putri Candrawathi hasil pemeriksaan lie detector sengaja tak diungkap atau hanya untuk penyidik karena alasan pro justitia. Adapun Ferdy Sambo akan diperiksa menggunakan lie detector pada Kamis, 8 September 2022.

Asal-usul deteksi kebohongan

Lie detector alat deteksi kebohongan menggunakan poligraf. Itu perangkat yang berfungsi mengumpulkan analisis respons fisiologis manusia melalui sensor yang terhubung ke individu yang diperiksa

Walaupun alat itu dianggap kebutuhan zaman modern untuk membuktikan kebohongan. Tapi, sebenarnya kebutuhan mendeteksi kebohongan sudah ada sejak hampir 2000 Sebelum Masehi.  

Salah satu cara deteksi kebohongan dikenal sebagai trial by combat. Kekuatan fisik digunakan untuk menyelesaikan masalah antara dua individu. Perkembangan selanjutnya dalam pencarian kebenaran dikenal dengan istilah trial by ordeal.

Pada awal 1890-an Angelo Mosso, seorang ahli fisiologi Italia mempelajari efek rasa takut di sistem pembuluh darah, jantung, dan pernapasan. Ia mengembangkan perangkat bandul ilmiah dan mengajukan teori tekanan emosional darah mengalir ke kepala. Perubahan kecil berat badan akan membuat bandul terbalik menunjukkan kebohongan. Namun, metode itu tak pernah dipraktikkan, kemudian digunakan ilmuwan lain dalam pengembangan poligraf modern.

Perkembangan alat deteksi kebohongan

Merujuk Polygraph Solutions Namibia, tes deteksi kebohongan ilmiah pertama ditemukan oleh Cesare Lombrosso pada 1895. Dalam metode ini tangan dimasukkan ke dalam wadah berisi air. Volume air yang dipindahkan saat subjek ditanyai menunjukkan penyempitan pembuluh darah di ujung jari.

Ahli kardiologi James Mackenzi mengembangkan instrumen poligraf terutama untuk dokter memantau perubahan fisiologis dalam tubuh. Leonarde Keeler dikenal sebagai penemu poligraf modern. Ia memperkenalkan komponen yang membentuk poligraf, seperti yang dikenal saat ini.

Baca: Putri Candrawathi Diperiksa Lie Detector, Apa Itu Alat Deteksi Kebohongan?

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.