Blog

losandes.biz: Sejarah Hubungan Ukraina dengan NATO


Dalam era yang terus berkembang dengan pesat, informasi telah menjadi komoditas yang tak ternilai harganya. Dari revolusi digital hingga transformasi teknologi, dunia kita kini tenggelam dalam lautan informasi yang tak pernah kering. Artikel ini mengajak kita untuk melangkahkan kaki ke dalam kompleksitas tatanan informasi saat ini, mengeksplorasi tantangan dan peluang yang muncul dalam mengelola dan memahami gelombang informasi yang terus menggulung. Dari algoritma cerdas hingga arus berita yang tak kenal lelah, mari kita telaah bersama bagaimana kita dapat menjadikan informasi sebagai alat untuk mendobrak batasan dan memahami dunia di sekitar kita dengan lebih baik.

Berikut adalah artikel atau berita tentang Harian losandes.biz dengan judul losandes.biz: Sejarah Hubungan Ukraina dengan NATO yang telah tayang di losandes.biz terimakasih telah menyimak. Bila ada masukan atau komplain mengenai artikel berikut silahkan hubungi email kami di [email protected], Terimakasih.

KIEV, KOMPAS.com – Hubungan Ukraina dengan NATO berbelit-belit sejak negara itu merdeka pada 1991 setelah pecahnya Uni Soviet.

Semenjak itu, Ukraina terpecah antara Moskwa yang merupakan bekas penguasanya di era Soviet, dan badan-badan Barat yang ingin mereka ikuti.

Dikutip dari AFP pada Rabu (23/2/2022), berikut adalah rangkuman sejarah hubungan Ukraina dan NATO.

Baca juga: Apa Itu NATO dan Daftar Negara Anggotanya

1. Kemerdekaan dan pembatalan persenjataan nuklir dibatalkan

Pada Desember 1991, Ukraina memberikan suara yang mendukung kemerdekaan dari Uni Soviet dalam sebuah referendum.

Presiden Rusia Boris Yeltsin menerima pemungutan suara, lalu Rusia, Ukraina, dan Belarus membentuk Commonwealth of Independent States (CIS).

Dengan menganggap CIS sebagai upaya untuk membawa republik-republik bekas Soviet di bawah kendali Moskwa, Ukraina diam-diam berbalik ke arah Barat. Mereka menjalin hubungan dengan aliansi militer NATO yang dipimpin AS, dan langkah itu ditentang Rusia.

Setelah berakhirnya Perang Dingin, Ukraina, Rusia, Inggris, dan AS pada Desember 1994 sepakat untuk menghormati kemerdekaan, kedaulatan, dan perbatasan Ukraina. Kesepakatan itu sebagai imbalan bagi Ukraina yang meninggalkan senjata nuklir yang diwarisinya dari Uni Soviet.

2. Perjanjian persahabatan

Pada Mei 1997 Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian persahabatan tanpa menghilangkan sumber utama ketegangan, yaitu hubungan Ukraina dengan NATO.

Perjanjian itu menyelesaikan perselisihan kunci dengan mengizinkan Rusia mempertahankan kepemilikan sebagian besar kapal di armada Laut Hitam yang berbasis di Crimea, sementara mengharuskan Moskwa membayar Kiev biaya sewa sederhana untuk menggunakan pelabuhan Sevastopol.

Moskwa juga tetap menjadi mitra komersial terpenting Kiev, dengan Ukraina sepenuhnya bergantung pada minyak dan gas Rusia.

Ukraina diperingatkan Uni Eropa pada 2003 ketika menandatangani kesepakatan dengan Rusia, Belarus, dan Kazakhstan di Ruang Ekonomi Bersama.

Uni Eropa mengatakan, hal itu dapat menghalangi pemulihan hubungan Ukraina dengan blok tersebut dan keanggotaannya di Organisasi Perdagangan Dunia.

Baca juga: Apa Itu NATO dan Masalahnya dengan Rusia-Ukraina?

3. Berkuasanya pemerintahan pro-Barat

Pemilihan presiden Ukraina 2004 dirusak oleh kecurangan dan kemenangan Viktor Yanukovych yang pro-Rusia, sehingga memicu demo yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam Revolusi Oranye yang damai.

Ini menandai awal dari era politik baru di Ukraina setelah 10 tahun di bawah kepemimpinan Leonid Kuchma, yang bimbang antara Eropa atau Rusia.

Yuschenko dengan cepat mengulangi keinginan Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa, meskipun ada keberatan dari blok tersebut bersama dengan NATO.

Pada 2008 dalam KTT di Bukares, para pemimpin NATO setuju bahwa Ukraina mungkin bisa masuk aliansi itu dan memicu kemarahan Moskwa.

Rusia dan Ukraina terlibat dalam beberapa perselisihan, terutama tentang gas pada 2006 dan 2009 yang mengganggu pasokan energi Eropa.

4. Pemberontakan pro-Eropa

Yanukovych terpilih sebagai presiden tahun 2010, dan pada November 2013 ia menangguhkan pembicaraan tentang pakta perdagangan dengan Uni Eropa demi hubungan yang lebih erat dengan Rusia.

Hal tersebut memicu protes besar-besaran selama berminggu-minggu oleh kelompok-kelompok oposisi pro-Eropa yang menuntut presiden pro-Rusia itu mundur.

Yanukovych lalu melarikan diri ke Rusia dan dimakzulkan.

Baca juga: Kenapa Rusia Tidak Masuk NATO? Ini 5 Alasannya

5. Aneksasi dan perang

Rusia merespons dengan mengirimkan pasukan khusus untuk menguasai situs-situs strategis di semenanjung Crimea Ukraina.

Pada Maret 2014 Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani perjanjian yang mencaplok Crimea ke Rusia.

Aneksasi tersebut memicu krisis diplomatik terburuk antara Barat dan Rusia sejak jatuhnya Uni Soviet.

Kemudian, pada April 2014 pemberontakan pro-Rusia pecah di kawasan timur industri Ukraina.

Separatis pro-Rusia di Donetsk dan Luhansk selanjutnya menyatakan wilayah mereka merdeka.

Ukraina dan para sekutu Baratnya menuduh Rusia menghasut pemberontakan dan menyuplai senjata dan pasukan untuk mendukung dua republik yang memproklamirkan diri itu.

Bentrokan tersebut menjadi konflik besar-besaran pada Mei 2014, dan konflik tersebut menewaskan lebih dari 14.000 orang.

Setelah mengumpulkan puluhan ribu tentara di perbatasan Ukraina, Putin pada 21 Februari 2022 mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk. Putin juga memerintahkan invasi Rusia ke Ukraina.

Hubungan Ukraina dengan NATO saat ini masih belum menemui kejelasan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky belum mendapat kepastian apakah negaranya bisa masuk NATO atau tidak.

Baca juga: Kenapa Rusia dan Ukraina Perang, Termasuk Berebut Crimea?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.