Jan Sinambela, jumlahnya mendekati lagu. Jenuh berkelana dari satu kedai ke kedai tuak lainnya, dalam kurun waktuia coba berwirausaha dengan membuka restoran masakan Jepang bernama Sendehan Hondohan, seraya merangkap penyanyi untuk menghibur tamu-tamu yang datang untuk bersantap.

Sepeninggal Jepang karena kemerdekaan RI, restoran yang dikelolanya bangkrut. Ia kemudian berkelana dari satu kota ke kota lain sebagai pedagang permata sembari mencipta lagu-lagu bertema perjuangan dan pop Batak.

TahunNahum kembali menetap di Medan untuk menggeluti usaha broker jual-beli mobil dan tetap bernyanyi serta mencipta lagu, juga kembali melakoni kesenangannya bernyanyi di kedai-kedai tuak. Sesekali ia tampil mengisi acara musik di RRI bersama kelompok band yang ia bentuk Nahum bisa memainkan piano, biola, bas betot, terompet, perkusi, selain gitar.

Periodemenurut kawan-kawan dan kerabatnya, adalah masa-masa Nahum paling produktif mencipta lagu dan tampil total sebagai seniman penghibur. Tahunmisalnya, ia dan rombongan musiknya tur ke Jakarta. Setahun lebih mereka bernyanyi, mulai dari istana presiden, mengisi acara-acara instansi pemerintah, diundang kedubes-kedubes asing, live di RRI, hingga muncul di kalangan komunitas Batak.

Pada saat tur ini pula ia manfaatkan untuk merekam lagu-lagu ciptaannya dalam bentuk piringan hitam di perusahaan milik negara, Lokananta. Kerap disebut-sebut, ia didera patah hati yang amat parah dan tak terpulihkan pada seorang perempuan bermarga Tobing, yang kabarnya berasal dari kalangan terpandang.

Cinta Nahum rupanya bukan jenis cinta sembarangan yang mudah digantikan wanita lain. Ternyata, berpisah dengan kekasihnya, benar-benar membuat Nahum bagaikan layang-layang yang putus tali di angkasa; terbang ke sana ke mari tanpa kendali. Ia tetap meratapi kepergian kekasihnya yang sudah menikah dengan pria lain. Sejumlah lagu kepedihan dan dahsyatnya terjangan cinta, berhamburan dari jiwanya yang merana.

Demikian pun Nahum tak hanya menulis sekaligus mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Dari lagu ciptaannya yang mampu diingat para pewaris karyanya, mengangkat beragam tema: kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasehat, filosofi, sejarah marga, dan sisi-sisi kehidupan manusia Batak yang unik dan khas. Nahum pun terkenal memiliki daya imajinasi serta empati yang luarbiasa. Tanpa pernah mengalami atau menjadi seseorang seperti yang ia senandungkan dalam berbagai lagu ciptaannya, ia bisa menulis lagu yang seolah-olah dirinya sendiri pernah atau tengah mengalaminya.

Lagu bernada riang itu seolah suara seorang ibu yang siap berlelah-lelah demi nafkah dan pendidikan anaknya hingga tak mempedulikan kebutuhan dirinya.

Lagu tersebut akhirnya telah dijadikan semacam hymne oleh kaum ibu Batak, yang rela mati-matian berjuang demi anak. Ketika menulis lagu itu Nahum layaknya seorang ibu.

Kemampuannya berempati itu, bagi saya, masih tetap tanda tanya, karena ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang relatif mapan karena ayahnya seorang amtenar yang tak akrab dengan kesusahan sebagaimana dirasakan umumnya orang-orang yang masa itu, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit. Ia pun tak pernah berumahtangga apalagi memiliki anak hingga mestinya tak begitu familiar dengan keluh-kesah khas orangtua Batak yang harus marhoi-hoi susah-payah memenuhi keperluan anak.

Juga ketika ia menulis lagu Modom ma Damang Unsoklaksana suara lirih seorang ibu yang sedih karena ditinggal pergi suami namun tetap meluapkan cintanya pada anak lelakinya yang masih kecil hingga seekor nyamuk pun takkan ia perkenankan menggigit tubuh si anak.

Ia pun menulis lagu Boasa Ingkon Saonari Ho Hutanda yang menggambarkan susahnya hati karena jatuh cinta lagi pada perempuan yang datang belakangan sementara ia sudah terikat perkawinan, seolah-olah pernah mengalaminya. Kesimpulan saya, selain memiliki daya imajinasi yang tinggi, Nahum memang punya empati yang amat dalam atas diri dan kemelut orang lain.

Dalam lagu Beha Pandundung Bulungmisalnya, ia begitu imajinatif dan estetis mengungkapkan perasaan rindu pada seseorang yang dikasihi, entah siapa.

Ia lukiskan perasaan rindu itu begitu sublim, indah, namun tetap menyisipkan nada-nada kesedihan. Mengentak pula lagunya yang dugaan saya dibuat untuk dirinya sendiri berjudul Nahinali Bangkudu. Lirik lagu itu tak saja menggambarkan ironi, pun tragedi bagi sang lelaki yang akan mati dengan status lajang.

Dengan pengunaan metafora yang mencekam, Nahum meratapi pria itu dirinya sendiri? Ironis sekaligus tragis. Dan Nahum tak saja pandai menulis lagu yang iramanya berorientasi ke musik Barat, pun piawai mengayun sanubari lewat komposisi-komposisi berciri etnik dengan unsur andung ratap yang amat pekat.

Perhatikanlah lagu Huandung ma Damang, Bulu Sihabuluan, Assideng-assidoli, Manuk ni Silanggedan yang lain, begitu pekat unsur uning-uningan -nya. Akhirnya kesan kita memang, dari lagu ciptaannya yang mampu dikumpulkan para pewarisnya, tak ubahnya kumpulan kisah tentang manusia Batak, alam Tano Batak, berikut romantika kehidupan.

Ia tak hanya piawai menggambarkan suasana hati namun mampu merekam aspek sosio-antropologis masyarakat Batak yang pernah disinggahinya dengan menawan. Lagu Ketabo-ketabomisalnya, menceritakan suasana riang kaum muda Angkola-Sipirok saat musim salak di Sidempuan, sementara Lissoi-lissoi yang kesohor itu merekam suasana di lapo tuak dan kita seakan hadir di sana. Demikian halnya tembang Rura Silindung dan Dijou Au Mulak tu Rura Silingdungbegitu kental melukiskan lanskap daerah orang Tarutung itu, hingga saya sendiri, misalnya, selalu ingin kembali bersua dengan kota kecil yang dibelah Sungai Aeksigeaon dan hamparan petak-petak sawah dengan padi yang menguning itu bila mendengar kedua lagu tersebut.

Mendengar lagu ini, kita seperti berdiri di ketinggian Huta Ginjang-Humbang, atau Tongging, atau Menara Panatapan Tele, menyaksikan pesona danau biru nan luas itu. Kadang memang ia hiperbolik, contohnya dalam lagu Pulo Samosirdisebutnya pulau buatan itu memiliki tanah yang subur dan makmur sementara kenyataannya tak demikian. Ia tampil parlente dengan kemeja dan celana warna putih, walau terlihat sudah tua. Rupanya ia sudah digerogoti penyakit kalau tak salah lever namun tetap memaksakan diri bernyanyi ke beberapa kota kecil di tepi Danau Toba hingga kemudian meninggal dunia di usia 62 tahun.

Lewat lagu-lagu gubahannya pula banyak orang telah dan masih terus diberinya nafkah dan keuntungan. Sejak remaja telah ia kontribusikan bakat dan mendedikasikan dirinya untuk negara dan Bangso Batak. Lebih dari patut sebenarnya bila mereka yang pernah berkuasa di seantero wilayah Tano Batak memberi penghargaan yang layak bagi dirinya, katakanlah menyediakan sebuah kubur di Samosir yang bisa dijadikan monumen untuk mengenang dirinya.

Keinginannya dikembalikan ke tanah leluhurnya melalui lagu Pulo Samosirmasih tetap sebatas impian. Ia tinggalkan bumi ini pada 20 Oktober setelah sakit-sakitan tiga tahunan dan bolak-balik dirawat di RS Pirngadi. Para pewaris karya ciptanya yang sudah ditetapkan hakim PN Medan,sudah lama berkeinginan memindahkan jasadnya dan membuat museum kecil di Desa Urat, Samosir, sebagaimana keinginan Nahum.

Diharapkan, para penggemarnya bisa berziarah seraya mendengar rekaman suaranya dan menyaksikan goresan lagu-lagu gubahannya. Rencana tersebut tak lanjut disebabkan faktor biaya dan sungguh disesalkan di antara para pewaris yang sah itu, yakni keturunan abang dan adik Nahum. One of the same native battaks clan had built the inc to manage Nuhun Situmorang songs ,beside the rivality with the nice of Nugun situmorang, Tagor ,his family became the musician Vicky sianipar.

Selain itu menciptakan lagu Sunda diantaranya Sekar Gending. Daeng Soetigna dari Jawa Barat. Jasanya telah mengubah tangga nada pentatonis pada alat musik angklung menjadi diatonis sehingga angklung dikenal oleh masyarakat Indonesia maupun manca negara. Dikenal sebagai pelantun lagu-lagu melayu dan sekaligus pencipta lagu dalam genre musik melayu. Said Effendi menjadi pujaan khalayak sekitar tahun an, ketika irama Melayu-Deli merajai pasaran musik.

Said Effendi menerima berkarung-karung surat dari penggemarnya. Ditahun an ia berhasil mengembalikan supremasi supremasi irama Melayu dari Malaysia ke Indonesia. Orang akan tertegun, jika mendengar suaranya berkumandang di radio atau piringan hitam, tinggi, lengking, dan padat, tanpa kehilangan kelenturannya. Terutama setelah menyanyikan lagu Seroja ciptaan Husein Bawafie, Said Effendi mengecap masa keemasan. Sering disangka sebagai anak Medan apalagi menilik gaya bicaranya sehari-hari. Masa kecilnya terbilang suram.

Baru berusia 6 tahun, Said telah ditinggal ibunya untuk selamanya. Ayahnya yang berusaha sebagai pedagang keliling sering meninggalkan rumahnya. Sekolahnya tak menentu. Suatu ketika ia bahkan dikeluarkan dari sekolah. Tapi sejak usia 5 tahun ia biasa bangun pagi, berangkat ke surau untuk melantunkan adzan. Keluar-masuk sekolah, Said akhirnya ikut seorang kerabat menjadi nelayan. Tapi ayahnya tak senang. Dia diberi barang dagangan, disuruh berkeliling ke kampung-kampung.

Dalam pengembaraan itulah Said berjumpa dengan seseorang, yang menawarkan kepadanya untuk dididik menjadi penyanyi. Maka pada usia 13 tahun ditahunia menjadi penyanyi orkes keroncong. Penghasilannya 1 gulden semalam, atau sama nilainya dengan 25 liter beras. Tapi setahun kemudian ia ditarik seorang pamannya ke Bondowoso, disuruh belajar lagi di Madrasah Al Irsyad.

Di sana Said mendirikan klub musik. Sebuah medali emas 15 gram konon masih tergantung di madrasah itu, hasil kemenangan perkumpulan musik yang dipimpin Said dalam salah satu kontes stambul. Sekolah itu ditutup Jepang karena berbau politik. Ia sempat memimpin rombongan musik ke Pontianak. Dari sana kembali ke Jakarta. Lainnya adalah Sal Saulius. Sal pula yang membimbingnya mengenal not hingga dapat mencipta. Lagu pertamanya Asmara Dewi tahunsetahun kemudian disusul Bahtera Laju. Nama dan suaranya kian tenar.

Menciptakan sekitar 40 buah lagu, Said memimpin Orkes Melayu Irama Agung, yang mengiringi suaranya dalam rekaman. Setelah Said membintangi beberapa film sebagai pemeran pembantu, sutradara Asrul Sani mempercayakan padanya peranan utama dalam Titian Serambut Dibelah Tujuh.

Tapi namanya lebih dikenang sebagai penyanyi. Melodinya, kata orang Tionghoa di Surabaya, ciamik soro. Sangat enak. Di Singapura, tepatnya di Pulau Sentosa, melodi lagu ini terus-menerus diperdengarkan.

Ia sebagai simbol kehadiran orang-orang Melayu di negara kota itu. Tentu proses rekaman sudah lama sekali, an, bahkan an. Musiknya sederhana, namun justru di situlah kelebihan lagu-lagu lama.

Syairnya pakai pola pantun. Ada sampiran, kemudian isi, ada nasihat, petuah-petuah bijak. Pantas saja orang-orang tua senang dengan lagu-lagu melayu ala Said Effendi. Mendengar rekaman ini ibarat meniti sejarah dangdut, musik paling populer di Indonesia sampai hari ini.

Ada kemiripan dengan dangdut, tapi berbeda. Dangdut yang ada sekarang, menurut saya, sudah berkembang menjadi sangat liar. Penampilan penyanyi-penyanyi dangdut wanita sangat tidak sopan.

Jogetnya liar dan sensual. Lain sekali dengan lagu-lagu melayu: anggun, sopan, religius, indah bahasa, adiluhung. Orkes pimpinan Abdul Kadir ini merilis puluhan album. Said Effendi ada di gambar itu. Menurut Malik Bz, sejak an Said Effendi sudah memperlihatkan bakat sebagai seniman musik jempolan.

Tak hanya membawakan lagu-lagu orang lain, Said pun banyak bikin lagu. Ya, lagu-lagu melayu sesuai dengan tren musik waktu itu. Said banyak dipakai orkes-orkes melayu di Jakarta dan Surabaya.

Dulu, kata Malik, setiap orkes selain punya pemusik-pemusik tetap juga beberapa penyanyi tetap. Said Effendi ini, karena kehebatannya, kerap diundang sebagai bintang tamu di sejumlah orkes melayu. Maka, nama Said Effendi pun populer hingga ke negara-negara tetangga macam Malaysia, Singapura, Brunei. Apalagi, waktu itu negara-negara serumpun ini punya selera musik yang hampir sama.

Yakni, lagu-lagu berpantun ala melayu. Melanglang buana ke negara jiran pun menjadi makanan sehari-hari Said Effendi. Sayang sekali, jasa besar Said Effendi dalam mengembangkan musik di Tanah Air kurang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia.

Tak ada penghargaan apa pun yang diterima almarhum Said Effendi. Personel inti memang hanya empat orang, yaitu Saleh Soewita gitarIshak contra-bassJachja bioladan Ariston da Cruz piano; pemusik asal Filipina yang berganti nama menjadi Arief Effendi.

Contra-bass kadang-kadang dipegang oleh Sarom. Ismail sendiri bertindak sebagai pemimpin sekaligus pengaransemen musik orkes itu. Grup ini dibentuk sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, yang ditujukan untuk menurunkan suhu politik yang makin panas dan setiap saat bisa meletus menjadi pertempuran terbuka.

Jam siaran mereka dua kali dalam satu pekan, biasanya setiap hari Selasa dan Rabu siang. Padahari dan jam main Empat Sekawan tidak menentu, kadang-kadang hari Senin, Selasa, atau Rabu. Umumnya orkes ini bermain sekitar 45 menit, dan tiga kali siaran dalam satu hari; siang pukul Selain secara berkala mengisi acara musik di studio radio, Empat Sekawan juga menyempatkan diri turun langsung ke pelbagai front.

Mereka menghibur para pejuang dan masyarakat setempat yang menyukai lagu perjuangan, khususnya lagu-lagu yang diciptakan oleh personel orkes kuartet itu, termasuk Ismail Marzuki. Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun dengan dibukanya Taman Ismail Marzukisebuah taman dan pusat kebudayaan di SalembaJakarta Pusat.

Pada tahun dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia. Ia sempat mendirikan orkes Empat Sekawan. R noerjatian. Padimin-kustiati2. Kroncong Mesra sunarno-supardi achijat.

Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. So, I brought out another classic Indonesian krontjong piece from the midth century, on the local Irama label.

I posted a krontjong tune of the same vintage, and on another independent Indonesian label Dendang. Krontjong itself is a relatively new type of urban folk music, developing in Indonesian urban areas a little over years ago, with Batavian, Portuguese, Malay, and even African influence.

Krontjong had changed dramatically since it was first recorded ca. The instrumentation was bare bones at first, featuring trios and the like. By the s, krontjong was a rage, with whole orchestras and popular singers getting into the act…yet, to me this music is not easily explained.

Sagi seorang Violinist keroncong. Tiga Band Popular pada tahun ,bacalah informasi dibawah ini yang diperoleh dari eksplorasi google :. Pada era ini musik barat dilarang diputar di Radio, sehingga musik dalam negeri memperoleh kesempatan.

Sejarah munculnya kreatifitas seniman dalam memopulerkan lagu-lagu Minang. Frans Sartono kompas. Mereka mengakomodasikan unsur musik Latin yang saat itu banyak digemari di negeri ini. Dengan penelusuran yang lebih lengkap mengenai sejarah munculnya lagu-lagu Minang yang bersinergi dengan musik-musik lain, Theodore KS, penulis masalah industri musik kompas.

Sementara gitar bersuara saluang ala Nuskan Syarif masih bisa dinikmati sampai sekarang bersama Kumbang Tjari-nya. Mereka-mereka ini merupakan grup musik yang dianggap tonggak tua dalam memopulerkan lagu pop Minang ketika itu. Kelahiran grup-grup musik ini ditopang oleh keberhasilan orkes Penghibur Hati yang lebih dulu berdiri dan terkenal dalam mendendangkan lagu-lagu Minang di RRI Jakarta.

Mengikuti sukses Gumarang, Kumbang Tjari pun tak kalah terkenalnya. Adalah Nuskan Syarif yang menakhodai grup musik yang berdiri tahun ini.

Meskipun mengagumi Gumarang, Nuskan berusaha membuat musik yang berbeda. Kalau Gumarang dominan dengan pianonya, Kumbang Tjari mengedepankan melodi gitar. Di sinilah Nuskan menunjukkan keperkasaannya sebagai pemain gitar, bukan hanya dalam soal teknik, namun juga dalam soal eksplorasi bunyi. Petikan gitarnya mengingatkan pendengarnya akan suara saluang, seruling bambu khas Minang. Ciri khas ini belum ada duanya sampai sekarang.

Sementara personel lainnya, Zaenal Arifin, mendirikan Zaenal Combo, yang merajai penataan musik rekaman hampir semua penyanyi pada akhir an sampai awal an.

Melihat perkembangan awal lagu-lagu pop Minang ini, wajar saja kalau sebagian penggemar lagu Minang prihatin dan kecewa dengan lagu Minang sekarang. Salah satu faktor yang menyebabkan lagu-lagu Minang tempo dulu bisa hinggap lebih lama di telinga pendengarnya adalah tidak banyaknya industri rekaman, apalagi ditahun-tahun an tersebut. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari lagu yang beredar. Belum lagi pada masa itu rekaman piringan hitam PH dengan gramafon sebagai medianya.

Bahkan untuk tampil di RRI saja harus melewati seleksi yang ketat. Ya Mustafaalso spelled Ya Mustaphais a famous Egyptian song of unclear origin, whose lyrics are composed in 3 different languages: Arabic, French and Italian.

The music of the song is similar to Greek music. It was very popular in the s and early s. The song has been performed in many different versions by many different singers worldwide. One of the earliest singers to record this song in the s was the Turkish -French singer Dario Moreno. The song became popular in Europe with the help of the Egyptian -born Palestinian singer Bob Azzamwho released it in in France.

Bruno Gigliotti, the brother of famous singer Dalidaalso covered the song. The song also featured in a few Egyptian movies, including one starring the Egyptian actor Ismail Yassin in the s, and another film featuring Sabah from the same era.

The song was also copied by the Indian composers Nadeem-Shravan. This song, with its Greek style music and polyglotic lyrics, can be considered as a historical tribute to the cosmopolitan era in the Egyptian city of Alexandria. During that era, a large cosmopolitan polyglotic community, mainly GreeksJews and Italians, lived in Alexandria. A sizable portion lived in the Attarine district, where the events of the song takes place.

Mereka sepakat mendirikan sebuah grup musik untuk meneruskan kiprah orkes Penghibur Hati yang mendendangkan lagu-lagu Minang.

Mereka menamakan grupnya orkes Gumarang. Nama itu diambil dari cerita legendaris Minang, Cindue Mato, yang tokoh utamanya memiliki tiga binatang kesayangan. Tiga binatang itu adalah Kinantan si ayam jantan yang piawai, Binuang si banteng yang gagah perkasa, dan Gumarang si kuda sembrani berbulu putih yang larinya bagaikan kilat sehingga menurut legenda tersebut bisa keliling dunia dalam sekejap.

Anwar Anif pun didaulat menjadi pemimpin. Mula-mula yang dibicarakan adalah bagaimana konsep musik yang akan dibawakan untuk lagu-lagu Minang yang sudah dipopulerkan oleh Penghibur Hati melalui Radio Republik Indonesia RRI Jakarta.

Oleh sebab itulah musik Latin tersebut menjadi unsur baru dalam aransemen musik Gumarang. Pada masa itu tidaklah mudah bagi seorang penyanyi atau sebuah grup untuk tampil di RRI. Mereka harus lulus tes di depan sejumlah juri, sebagaimana layaknya peserta sebuah lomba.

Alidir yang menggantikannya ternyata bertahan lebih singkat lagi dan kemudian menyerahkan pimpinan Gumarang kepada Asbon, bulan Mei Asbon tidak hanya mempertegas dominasi musik Latin dalam lagu-lagu yang sudah biasa dibawakan Gumarang, tetapi juga pada lagu-lagu baru ciptaannya maupun ciptaan personel Gumarang lainnya.

Pada masa Asbon inilah bergabung pianis yang memiliki sentuhan Latin, Januar Arifin, serta penyanyi Hasmanan kemudian menjadi sutradaraNurseha, dan Anas Yusuf. Kebesaran Gumarang tidak bisa disangkal berkat seringnya grup ini tampil di RRI dan memeriahkan acara Panggung Gembira.

Sukses Gumarang merebut hati masyarakat menyebabkan penampilan orkes itu berlanjut di tempat-tempat lainnya, seperti Istana Negara, Gedung Kesenian, dan Istora Senayan. Pada masa kepemimpinan Alidir, Gumarang sempat merekam sejumlah lagu di bawah naungan perusahaan negara, Lokananta, di Solo. Dalam rekamannya yang pertama ini Gumarang bermain dengan gendang, bongo, maracas, piano, gitar, dan bas betot.

Mereka tetap mempertahankan rentak gamat dan joget sambil memadukannya dengan beguine, rumba, dan cha-cha. Bunyi alat musik Minang, seperti talempong, memang memberikan asosiasi pada irama Latin, demikian juga saluang. Itulah sebabnya irama Latin mudah dipadukan dengan lagu-lagu Minang. Suyoso Karsono yang memimpin perusahaan rekaman Irama di Jakarta ternyata diam-diam tertarik pada Gumarang.

Sebagai seorang pengusaha, orang yang dikenal dengan nama Mas Yos itu tahu bahwa irama yang dibawakan Gumarang bukan saja mampu menyajikan lagu-lagu Minang sesuai dengan aslinya, namun juga memiliki ramuan irama Latin yang amat disukai masyarakat. Kalau selesai rekaman, Nurseha diantar Asbon dengan becak ke rumahnya di Grogol. Mas Yos memberikan bahan-bahannya dan saya tulis di berbagai surat kabar serta majalah Selecta dan Varia. Bahkan, harian Pedoman menulis Gumarang dalam tajuk rencananya.

Pemutaran lagu-lagu Gumarang itu adalah atas permintaan masyarakat yang mendatangi toko-toko itu dan membeli PH mereka. Laruik Sanjo yang berarti larut senja dan Ayam Den Lapeh sebagai analogi kehilangan kekasih, menjadi lagu-lagu populer secara nasional. Sedemikian populernya kedua lagu itu, Laruik Sanjo dilayarputihkan oleh Perfini tahun dengan sutradara kondang Usmar Ismail serta aktor Bambang Irawan dan aktris Farida Oetojo sebagai pemeran utama.

Ceritanya diambil dari lirik lagunya. Artinya, yang dikejar luput, yang dimiliki terlepas. Pelakunya adalah seorang yang bernama Asbon Majid, pemimpin orkes Gumarang. Dengan maksud memberi alternatif lain dari seriosa, keroncong, dan hiburan, Asbon memasuki unsur-unsur musik Latin yang pada masa itu memang sedang populer di Indonesia. Detail information on musical album is important for history.

Look at this album entitled Tahu Tempe by singer Oslan Husein which published by Irama record on ies. Sjahrul Nawas said that this album presented songs concerning about basic need of the Indonesian people in era ies. This album responded toward speech of Presiden Soekarno who said that Indonesian people will never been hungry, because Indonesia is a rich country.

But what made this album special is a song entitled Lebaranwhich became national anthem and sung every Idul Fitri season. Also finally, we know that the composer of this classic song is M. Jusuf, a leader of Orkes Widjaja Kusuma, a band for this album. Who has any information about M. Please share us. Nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatera Barat yang dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang beredar di masyarat.

Hal ini karena musik Minang bisa diracik dengan aliran musik jenis apapun sehingga enak didengar dan bisa diterima oleh masyarakat. Unsur musik pemberi nuansa terdiri dari instrumen alat musik tradisional saluangbansitalempongrababdan gandang tabuik. Ada pula saluang jo dendang, yakni penyampaian dendang cerita berlagu yang diiringi saluang yang dikenal juga dengan nama sijobang [14].

Musik Minangkabau berupa instrumentalia dan lagu-lagu dari daerah ini pada umumnya bersifat melankolis. Hal ini berkaitan erat dengan struktur masyarakatnya yang memiliki rasa persaudaraan, hubungan kekeluargaan dan kecintaan akan kampung halaman yang tinggi ditunjang dengan kebiasaan pergi merantau.

Dua yang disebut terakhir masih bisa menjaga denyut nadinya lantaran mereka relatif lebih atraktif dalam mengembangkan artis-artis baru. Ceepee Record, umpamanya, minimal masih punya Moluccas yang kini sedang naik daun, selain album abadi Vina Panduwinata.

Tantowi Yahya sendiri, salah seorang pemiliknya, masih bisa dijual nama dalam pop-country. Sedang dalam barisan Prosound, masih ada Naif, Shakadiva, dan Rossa. Album Tegar Rossa tempo hari laku sampai ribu kopi. Bukan hanya dapat platinum, Rossa juga langsung memosisikan diri dalam deretan penyanyi papan atas. Bagaimana Indo Semar Sakti? Artis debutan baru yang mulai mengkilat di situ praktis hanya Tiket. Tapi, Indo Semar Sakti memiliki perusahaan distribusi yang sampai sejauh ini disebut-sebut paling luas, selain menguasai sejumlah lisensi artis-artis Barat.

Sebelum lima raksasa datang ke Indonesia, separuh besar lisensi artis Barat berada dalam genggaman Indo Semar Sakti. Sebagian sahamnya pun, menurut Log Zhelebour, tertanam di Logiss Record. Meski Boomerang meninggalkannya, pundi-pundi Logiss masih terus diisi ben jagoannya: Jamrud.

Padaperhitungan puncak menunjukkan, angka penjualan Ningrat, album keempat Jamrud, mencapai dua juta kopi. Album kelima Jamrud, Sydneyyang beredar mulai Januaridiproyeksikan Log Zhelebour akan mencapai tiga juta kopi. Masih jadi pertanyaan di benak saya, apa sih istimewanya Aquarius hingga bisa menguasai 10 persen pangsa pasar?

Berbekal sikap dasar seperti itu, Aquarius relatif lebih optimistik dalam melihat perkembangan pasar. Di kepala kami, pokoknya bagaimana ngeramein musik Indonesia. Ia bisa berkata demikian karena mengalami sendiri bagaimana pahit-getirnya menjalankan bisnis rekaman.

Ia masih sempat berkipas-kipas senang lantaran album tersebut laku sampai ribu kopi. Berikutnya, tanpa tahu di mana akar masalahnya, BL Produktama kehabisan peluru dan terus tiarap sampai kini. Advance atau uang muka, menurut Leo, masih bisa dinegosiasikan besarnya—bergantung pada kesepakatan apakah akan menggunakan royalti penuh, atau semi-royalti. Royalti penuh bisa menguntungkan produser, dengan catatan bila albumnya laku dan melampaui titik impas.

Lebih-lebih di masa serba tidak pasti seperti sekarang ini. Berapa ongkos produksi sebuah album? Log Zhelebour, produser Logiss Records, mengungkapkan, biaya produksi album ben yang sudah dikenal bisa mencapai Rp juta dalam 50 ribu kopi. Ini berarti Log menggunakan biaya promosi dan umum sekitar Rp juta, sebab biaya reproduksi kaset sebenarnya hanya Rp 3. Biaya promosi sebesar itu cukup untuk membuat dua atau tiga klip video.

Bila harga kaset dipatok Rp 16 ribu per unit, album tersebut akan menghasilkan nilai jual Rp juta. Di sini Log belum lagi untung. Paling-paling ia hanya mencapai titik impas versi buku. Hitungan saya, net margin Log cuma Rp 50 juta. Kepada Kontan, Log mengatakan, keuntungan kotor rata-rata kaset mencapai 40 persen dari harga jual.

Keuntungan ini harus dibagi dengan agen pengecer. Satu kaset Rp 4. Belum cukai Rp per kaset. Kalkulasi jadinya: 40 persen x Rp juta — [4. Jumlahnya bisa ratus-ratus juta untuk ben sekelas Jamrud, misalnya. Masa sih Jamrud mau dikasih Rp 50 juta? Dari angka-angka tersebut, Anda paham kenapa bisnis musik mutlak dilakukan oleh mereka yang punya dana besar, berotak dagang, berhati bisnis.

Modal lain: bertelinga seni. Di masa krisis ini, tidak mudah daftar kriteria seperti itu dipenuhi para produser rekaman. Dana besar, otak dagang, dan hati bisnis, bisa rusak seketika begitu datang situasi tidak menentu akibat rupiah yang sempoyongan. Saya bisa mengerti kalau dari seratusan perusahaan rekaman lokal yang ada, hanya sekitar 20 saja yang dikabarkan masih bisa wara-wiri di jagat industri musik.

Sisa terbesarnya, sebagian menunggu cuaca baik pasar, sebagian menunggu datangnya artis debutan, sebagian lagi gulung tikar dan banting setir ke usaha lain. Dalam perjudian nasib semacam itu, Aquarius beruntung punya grup-grup tangguh. Albumnya, Bintang Lima, sukses terjual hingga 1,7 juta kopi, tempo hari. Grup-grup lain yang membentengi Aquarius pun bukan recehan. Minimal, dalam tangga lagu di televisi atau radio. Benteng terkokoh Aquarius adalah barisan solois perempuan. Melly Goeslaw bahkan masih tetap penyanyi wanita teratas dalam dunia rekaman, meninggalkan Krisdayanti.

Albumnya, Melly, dengan lagu andalan Jika, tempo hari terjual sampai ribu kopi. Kemudian single-nya, Ada Apa dengan Cinta, terjual ribu kopi. Krisdayanti sendiri hanya membukukan ribu kopi lewat album Mencintaimu. Reza masih di bawah Kridayanti. Tapi, Keabadian, album terakhir Reza, membuat pukulan ganda. Di dalam negeri terjual sekitar ribu eksemplar, di luar negeri mengail royalti. Oleh Asian Music Standard yang bermarkas di Tokyo, album tersebut diinggriskan dan diedarkan di Jepang dalam titel Amazing.

Asian dimiliki Masaki Ueda, seorang solois, aranjer, dan komposer. Sebagai solois, selain sempat berkolaborasi dengan sejumlah artis dunia mulai BB King, Natalie Cole, sampai Miles Davis, Ueda sekurang-kurangnya telah mencetak 30 album. Forever Peace dibawakan dalam komposisi duet Ueda-Reza, dan menjadi tema balap Formula 1 di Jepang dan Korea, beberapa waktu lalu.

ADA sejumlah jurus untuk bertahan di industri rekaman. Jurus pertama, menjual album musik etnik sebagaimana dilakukan Eksotika Karmawibhangga Indonesia, yang melempar lagu-lagu karya Sujiwo Tejo.

Pasar ini mengandalkan fanatisme daerah. Begitu pula Didi Kempot, yang mendekatkan musik Cirebonan ke telinga publik luas. Album Kalangkang sendiri dinyanyikan Nining S. Meida, penyanyi populer Jawa Barat pada awal an.

Jurus berikutnya, menyelipkan lagu andalan pada film atau sinetron. Ada Apa dengan Cinta adalah single Melly Goeslaw bersama Eric, yang jadi lagu tema film dengan judul yang sama. Masih ada contoh lain. Belum lagi Krisdayanti lewat Mencintaimu, atau Rossa melalui Hati yang Terpilih; album mereka terjual dalam ratusan ribu kopi.

Percaya atau tidak, jurus nebeng ke film atau sinetron belakangan dijajaki juga oleh banyak artis dan musisi. Lihat saja film Ca-Bau-Kan. Bukankah lagu temanya, Waktu kan Menjawab, itu milik kelompok Warna. Saya bisa menambah daftar lagi. Atau Sesuatu yang Tertunda Padi yang nyantel pada sinetron Keajaiban. Salah satu episode Zig Zag, sinetron laga, diisi penampilan kelompok keras Jamrud melalui Halo Penjahat.

Pelangi Jamrud juga jadi lagu tema sinetron Pelangi di Matamu. Kalau tertarik jurus lain, Katakanlah - Elfas Singers - Aku Jatuh Cinta (Cassette saja lanjutan cerita Bens Leo. Misalkan tentang kisah-kisah sukses para produser yang mengembangkan diri dalam indie label.

Disebut demikian, lantaran mereka memproduksi sendiri, mengembangkan jaringan pasar sendiri. Kalau tidak laku, ya dikonsumsi sendiri, minimal teman sendiri. Dapat disebut di sini kisah sukses Hadad Alwi, pelantun irama kasidahan yang biasa berduet dengan Sulis.

Tahundi tengah-tengah heboh sukses album pertama Sheila on 7 yang terjual ribu kopi dalam delapan bulan, Alwi melemparkan album Cinta Rasul. Majalah NewsMusik mencatat, untuk menjangkau penjualan sejuta kopi, Alwi hanya membutuhkan tiga bulan, yang kebetulan melintasi bulan Ramadhan. Berapa jumlahnya di puncak edar?

Bila ingin kasus lain, bisa ditengok Slank; tahunkelompok ini memulai debut rekaman di bawah label Program Q, dengan beking distribusi Virgo Ramayana Record. Album perdana Suit He He terjual an ribu kopi. Album kedua dan ketiga pun tidak beranjak dari angka tersebut. Sejak album keempat, Slank memutuskan bergerilya lewat indie label. Hasilnya, album Slank selalu Album) angka rekaman sebelumnya.

Mereka tak pernah di bawah ribu. Penjualan album tertinggi Slank berlangsung pada ketika melempar Balikkin yang terjual sampai 1,5 juta kopi. Terilhami sukses mereka atau tidak, indie label mengalami perkembangan luar biasa dalam lima tahun terakhir ini, terutama dalam poros Jakarta-Bandung-Surabaya. Dianggapnya musik kita ini akan merusak kuping orang. Karena di Indonesia sendiri antarperusahaan rekaman, kami saling mendukung. Seorang pembajak, demikian Djuhana, bisa menjual sejuta kopi sehari.

Dengan keuntungan per kopi Rp saja, mereka bisa meraup Rp juta sehari atau Rp 3 miliar sebulan. Omzetnya bisa tiga kali lipat kita.

Tak ada muka menyeramkan di sana. Di belakang resepsionis, tiga pesawat televisi yang disusun secara vertikal melulu menyiarkan paket acara MTV dalam volume rendah. Tepat di depan resepsionis, lukisan besar karya Irawan Karseno menghiasi dinding.

Di sebelah kirinya, berderet sejumlah penghargaan musik, baik gold maupun platinum. Selang beberapa menit, seorang pria berkumis tipis masuk.

Ia berjalan menuju lift, dan menekan-nekan Album) di sana. Sebelum pintu benar-benar terbuka, tergesa-gesa ia masuk peturasan eksekutif di sebelah kanan kapsul tangga berjalan itu, yang berjarak hanya dua-tiga langkah. Ia Jan Nurdjaja Djuhana, orang yang hendak saya temui. Lagu Jump Around dari House of Pain memenuhi ruangan ketika datang kesempatan saya untuk naik ke lantai tiga, tempat Djuhana berkantor.

Kantor Djuhana hanya beberapa langkah dari pintu lift. Stereo set, pesawat televisi, tumpukan kaset dan CD, patung perempuan telanjang dari kayu karya Wayan Winten dari Ubud, Bali, mengisi ruangan. Di sini juga terpajang sejumlah penghargaan musik.

Seumumnya kantor eksekutif, ruangan itu bersih dan wangi. Djuhana menyambut saya dengan ramah, dan menawarkan minum. Sejenak kami berbasa-basi sebelum masuk ke inti masalah yang hendak saya tanyakan.

Djuhana, kini 54 tahun, bukan sosok baru dalam jagat musik Indonesia. Jauh sebelum menempati posisi strategis sebagai direktur senior artis dan repertoar di lingkungan PT Sony Music Entertainment Indonesia, namanya telah berkibar sejak dua dasawarsa silam. Persentuhan intens dengan musik dimulainya sejak duduk di bangku sekolah menengah ketika ia membangun kelompok musik Navano.

Tiada yang layak dicatat, selain pernikahan Djuhana dengan Janawati, vokalis kelompok itu. Hari-hari Djuhana berikutnya lebih tercurah untuk membantu ayahnya jualan kaset dan piringan hitam di tokonya, di kawasan Glodok, Jakarta. Seraya berjualan, pria yang sempat studi teknik elektro di Universitas Kristen Djakarta itu juga memproduksi kaset rekaman sendiri. Industri rekaman sesungguhnya dijalaninya sejaksegera setelah dirinya merapat ke Star Cemerlang.

Tidak sampai setahun, kaki Djuhana berada di Perina Group. Ia membawahi Saturn Record. Tapi, perusahaan ini tidak mampu bertahan lama karena kurang modal. Mula-mula ia berkonsentrasi pada kegiatan menyeleksi lagu-lagu Barat. Namun, setelah lagu-lagu Barat dikenai aturan lisensi, Djuhana langsung menajamkan daun telinganya untuk mencari artis-artis lokal yang pantas diorbitkan. Lagu Emosi Jiwa meluncur di pasaran dan langsung jadi hit. Kemudian Dewa 19 yang meledak sejak album pertama mereka, Kangen.

Elfa Singers pun lahir dari ketajaman kuping Djuhana. TahunTeam Record limbung dan hancur. Dunia rekaman ia tinggalkan. Seperti membalik waktu, Djuhana kembali mengurusi toko kaset.

Meski sudah tidak bekerja di perusahaan rekaman, langkah Djuhana tetap dikuntit sejumlah musisi. Di antara mereka tak sedikit yang menyodorkan demo rekaman lagu. Ia sering tak sampai hati menelantarkannya. Beberapa yang dianggap bagus, taruhlah kelompok Bayou, diantarkan Djuhana ke Aquarius Record, atau kelompok Gigi diserahkan ke Union Artis.

TahunSony Music mengibarkan bendera di Indonesia. Tapi, perburuan terhadap artis-artis lokal baru dimulai pada menyusul masuknya Djuhana. Musik mereka tidak hanya terdengar di dalam negeri, tetapi juga bergaung sampai ke Malaysia. Meski Djuhana menerapkan standar tinggi dalam rekrutmen artis baru, sejatinya ia bukan orang yang cepat nyinyir dengan grup-grup debutan, sekalipun mereka datang tanpa nama.

Kalau masih tetap ragu? Djuhana biasanya melakukan tes pasar melalui Indie Ten, album kompilasi yang terkenal dari Sony Music Indonesia. Padi, Wong, atau Cokelat lahir dari pola ini. Penghargaan tersebut diberikan 10 negara di Asia dalam pertemuan terakhir mereka di Thailand, pada Sony Music Indonesia memperolehnya karena dianggap sukses mengembangkan talenta-talenta baru. Dari 20 artis yang ada, hanya lima di antaranya muka lama.

Saya tidak meragukan Sony Music, demikian juga label-label internasional lain, untuk terus mengerahkan segenap enerjinya guna mendapatkan sumber daya terbaik dari hulu sampai hilir.

Ya artis andal, ya manajer profesional. Esok lusa, kalau begitu, apalagi yang tersisa buat label-label lokal? Pada mulanya adalah musik klasik dan jazz, lalu gramafon Columbia made in USA dan peralatan studio rekaman dibawa ke Hindia Belanda pada awal abad ke, seratus tahun silam. Setelah itu baru tercatat berdirinya perusahaan rekaman Odeon, Canary, dan His Master Voice di Surabaya, yang memproduksi piringan hitam untuk orang-orang kaya perkotaan yang jumlahnya tidak seberapa.

Catatan keberadaan perusahaan rekaman di Indonesia ditemukan sekitar tahun ketika Irama berdiri, disusul Dimita, Remaco di Jakarta dan perusahaan rekaman milik negara Lokananta di Solo.

Sedemikian sederhananya sehingga suara hujan atau kereta api yang lewat di belakang studio terekam lebih keras dari musik dan vokal penyanyi. Jejak Irama diikuti Dimita dan Remaco, yang selain memproduksi lagu-lagu keroncong, mulai berpaling pada lagu pop. Dimita yang dipimpin Dick Tamimi memproduksi piringan hitam Panbers dan Koes Bersaudara, sebelum kedua grup itu pindah ke Remaco. Sementara Lokananta tetap memproduksi lagu-lagu daerah dan tradisional.

Hingga tahunperusahaan-perusahaaan yang memproduksi piringan hitam ini tidak mengalami hambatan berarti kecuali pasar yang lambat berkembang. Industri rekaman Indonesia baru memasuki Era Kaset tahun Bila nak bermanja, aku dekati Bila nak bergesel, aku duduk sebelah Bila sedih, yang boleh memujukku hanya Bila nakal, yang memarahi aku Bila merajuk, yang memujukku cuma Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah Bila takut, yang tenangkan aku Bila nak peluk, yang aku suka peluk Aku selalu teringatkan Bila sedih, aku mesti talipon Bila seronok, orang pertama aku nak beritahu Bila bengang.

Bila takut, aku selalu panggil Bila sakit, orang paling risau adalah Bila nak exam, orang paling sibuk juga Bila buat hal, yang marah aku dulu Bila ada masalah, yang paling risau Yang masih peluk dan cium aku sampai Katakanlah - Elfas Singers - Aku Jatuh Cinta (Cassette ni.

Yang selalu masak makanan kegemaranku. Yang selalu simpan dan kemaskan barang-barang aku Yang selalu berleter kat aku Yang selalu puji aku Bila nak kahwin. Orang pertama aku tunjuk dan rujuk Aku ada pasangan hidup sendiri Bila seronok, aku cari Bila sedih, aku cari Bila berjaya, aku ceritakan pada Bila gagal, aku ceritakan pada Bila bahagia, aku peluk erat Bila berduka, aku peluk erat Bila nak bercuti, aku bawa Bila sibuk, aku hantar anak ke rumah Entah bila Renungkan: "Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja Berderai air mata jika kita mendengarnya.

Tapi kalau mak sudah tiada Berapa ramai yang sanggup menyuapkan ibunya Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera mengesatkan tangan di apron menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.

Kos upah membantu ibu:. Jumlah : RM Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu berlegar-legar si mindanya. Si ibu mencapai sebatang pen dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama. Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh siibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata,"Saya Sayangkan Ibu". Kemudian si anak mengambil pen dan menulis "Telah Dibayar" pada mukasurat yang sama ditulisnya. Wednesday, July 22, Anak Derhaka.

I have been wanting to write a similar article, but it requires extensive research on my part, and it is not something I could write from my memory alone. So I found what I wanted to say from Mahaguru YOu can visit his blog here.

It is reprinted here with his permission, with lots of thanks from this blogger. It is a great reminder for myself, and I don't like to preach and would not like others to preach to me. Dewasa ini sudah ramai dikalangan anak anak zaman ini yang sudah berani berlaku derhaka terhadap ayah dan ibu mereka.

Mereka menganggap diri mereka lebih hebat dan terpelajar dari ibu dan bapa mereka dan sering berlaku biadap serta kurang ajar terhadap ayah bonda mereka. Jangan main main dengan orangtua.

Tidak ada hijab diantara ibubapa dengan Tuhan Rabbul Alamin. Do'a mereka pasti dimakbulkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala! Honestly, tak kemana pun pandai kita or kaya kita. Sapalah kita tanpa ibubapa. Setitik airmata mereka yang mengalir kerana kita Minta ampun banyak kali pun adalah gunanya. Airmata yang sudah mengalir takkan dapat kembali ke asalnya. Durhaka terhadap orang tua adalah diantara dosa dosa besar!

Kewajiban anak terhadap orang -tua, yaitu berbuat baik, taat dan menghormat. Ini sesuai dengan panggilan fitrah yang harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Dan yang lebih hebat lagi ialah hak ibu, sebab dialah yang paling berat menanggung penderitaan waktu mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh. Firman Allah Ta'ala: " Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapanyaibunya telah mengandung dia dengan susah-payah dan melahirkannya dengan susah-payah pula; mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan.

Ia menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Ia menjawab: Ayahmu! Begitulah sebagaimana ungkapan al-Quran. Oleh karena itu dalam hadisnya, Nabi Muhammad s. Mereka menjawab: Mau, ya Rasulullah! Maka bersabdalah Nabi, yaitu: menyekutukan Allah, durhaka kepada dua orang tua --waktu itu dia berdiri sambil bersandar, kemudian duduk, dan berkata: Ingatlah!

Omongan dusta dan saksi dusta. Dalam hal ini Allah berfirman sebagai berikut: "Tuhanmu telah memerintahkan hendaklah kamu tidak berbakti kecuali kepadaNya dan berbuat baik kepada dua orang tua, jika salah satu di antara mereka atau keduanya sudah sampai umur tua dan berada dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu katakan kepada mereka itu kata-kata 'uff' kalimat yang tidak menyenangkan hatidan jangan kamu bentak merekatetapi katakanlah kepada mereka berdua kata-kata yang mulia.

Dan rendahkanlah terhadap mereka berdua sayap kerendahan karena kasih, dan doakanlah kepada Tuhanmu: Ya Tuhanku! Berilah rahmat mereka itu, sebagaimana mereka telah memeliharaku di waktu aku masih kecil. Rasulullah s.

Kemudian mereka itu bertanya: bagaimana bisa jadi seseorang akan melaknat dua orang tuanya? Maka jawab Nabi: yaitu dia mencaci ayah orang lain kemudian orang tersebut mencaci ayahnya, dan ia mencaci ibu orang lain, kemudian orang tersebut mencaci ibunya.

Pergi ke Medan Jihad Tanpa Izin Orang Tua, Tidak Boleh Demi perhatian Islam terhadap kerelaan dua orang tua, maka Islam tidak membenarkan seorang anak pergi ke medan jihad tanpa mendapat izin dua orang tua, padahal fisabilillah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam yang tidak dapat dibandingkan dengan sekedar sembahyang malam dan puasa di siang hari.

Abdullah bin 'Amr bin 'Ash meriwayatkan: "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi minta izin pergi berperang, kemudian Nabi bertanya: Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Ia menjawab: Masih. Maka sabda Nabi: Berjuanglah untuk kedua orang tuamu itu. Dalam satu riwayat dikatakan: "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi s. Lantas Nabi bertanya: Apakah salah satu dari kedua orang tuamu itu masih hidup?

Ia menjawab: Betul, bahkan kedua-duanya masih hidup. Kemudian Nabi bertanya lagi: Apa betul kamu mencari pahala Allah? Ia menjawab: Betul! Maka jawab Nabi: Pulanglah, temui kedua orang tuamu itu, kemudian berbuat baiklah dalam bergaul dengan keduanya.

Lantas Nabi bertanya: Apakah kamu masih mempunyai salah seorang keluarga di Yaman? Ia menjawab: Ya, dua orang tua saya. Nabi bertanya lagi: Apakah keduanya itu telah memberi izin kepadamu? Ia menjawab: Tidak! Kemudian Nabi bersabda: Pulanglah, dan minta izinlah kepada keduanya, kalau mereka itu memberi izin maka pergilah berperang, dan jika tidak, maka berbuat baiklah kepada keduanya. Manusia biadap seperti ini lupa akan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul Sallalahu Alaihi Wassallam supaya berlaku baik terhadap ibubapa mereka dan jangan sekali kali menyakitkan hati ibu dan bapa mereka yang tanpa salah seorang dari mereka tidak akan terjadinya diri mereka itu dan mustahil mereka akan dapat lahir kemuka bumi ini sebagai seorang manusia!

Sejarah peradaban manusia membuktikan bahawa sekiranya seseorang itu hendak diterima masyarakat sebagai seorang budiman, maka perilakunya terhadap ibu dan ayah kandung semestinya terbaik laku dan berhemah.

Bila ada anak yang derhaka terhadap ibu dan ayahnya, maka terlaknatlah si anak derhaka itu selagi belum meminta ampun maaf dari kedua atau salah seorang dari mereka yang telah disakitinya samada dengan kata kata, penulisan atau kelakuan. Ada bukti bukti yang nyata akan nasib anak yang derhaka ini.

Sudah banyak kali peristiwa peristiwa anak anak derhaka terhadap orang tuanya disaksikan secara nyata didalam kehidupan ini. Jangan sampai kisah si Tanggang berulang kembali! I have not met him personally, but I must add that I do feel sad with his demise. And shocked too. I have frequented his blog The Ancient Mariner quite a bit the past years. For some reasons, I have not visited his blog for more than a month recently, but surfing today I found out about his death 2 days late.

I have commented a couple of times in his blog and he had responded to my comments. Nothing much and nothing out of the ordinary, I guess but he was always pleasant. He thought that I was related to another Hariri he knew, but we weren't.

And I must say that that I would seldom comment on someone else's blog. I prefer to lurk and then disappear of course after reading. But his was different. I have always looked forward to his posting. Light hearted even on the most serious topics but well presented thought I must admit. I admire his sense of idealism especially at this age.

He abhors corruptions, something I can relate to myself. A man with great conviction right till the very end. Sunday, July 19, Are we tempting fate? Our politicians and newspapers were going gaga of the performance of the Malaysian team during the match against Man United. I thought it was only a friendly and that it was the results of non-performance of on the MU team, rather than the performance of the Malaysian team. Obviously van der Saar was still napping when Amri lobbed the ball - though it was a wonderful lob in any case.

What are we expecting from them since many had just returned from lazing around in the Caribbean? They are probably treating the game as a beach soccer anyway. Are we trying to tempt fate by having the second game? Hahaha, I think we are. It is no laughing matter though. For some reasons I think we are in for a mauling ala Yes, wipe out Katakanlah - Elfas Singers - Aku Jatuh Cinta (Cassette smile FAM, for this is not even a swallow for us to call it summer. Oh boy [sigh].

Prologue I read in the blogs recently that Natrah aka Maria Bertha Herthog, her maiden name, passed away in the Netherland recently. I think despite the passing of time, she is one name deeeply entrenched in the mind of the Malays in Malaysia for a long time, especially those who live in the 50s.

I am sure many youngsters would not have inkling of her, but even for me who is more of a 60s boy, her story has always fascinated me as a child. That image of her clinging to her adopted mother will forever be etched in my memory. Here is what I wrote and posted on March 15, about her. Her life is full of tragedy and I really hope she will find peace with God. Innalillahi wainna ilaihirojiun. Labels: s Saturday, July 11, Semalam di Kuala Lumpur.

All my childhood memory came back flashing to me last night. With such a star studded show, it was well worth of the price of the ticket. But it also left me with an exasperation and an incomplete sense of satisfaction - if I can put it that way. How else can one describes it when you have singers of legendary status, who would be able to hold court on stage and and wow audience in a solo concert anywhere in Malaysia or their home country, were only allowed to sing two songs when collectively they may well have over recorded song - at the very least, from the 60s to the 90s!

Anyway, I was not the organizer, so I should not be complaining to much, nonetheless I was thankful to them that I would be able to meet and hear these legends sing right in front of me. I was lucky to be seating in the first row and have an unimpeded view of the stage and hence I was reasonably pleased with the photo I took last night. Take for example, the first singer of the night. Ernie Djohan above. I am reasonably sure I used to listen to her when the next door neighbour would have their radio loud, belting songs like Teluk Bayur and Kau Selalu dihatiku when I was a pre-schooler in the late 60s in this remote town of Lenggong.

Or when we were staying at a government bungalow at the edge of Lenggong town in the early 70s, Mak would at times played Teti Kadi's above Tarikan Nafas Terakhira song which would almost always make me longing for those years again, if it didn't bring me tears to my eyes.

Endang S Taurina has enough hit songs under her belt to be able to conduct solo concerts. She is perhaps the most fantastic singer with her quality high pitch voice, and would give any singer during her time and even now, a run for their money.

Honestly, we were 'melayang-melayang' when she was singing her song Apa yang ku cari. The audience was practically feeding out of her hands, singing along whole-heartedly.

Deuce - Kiss - Alive! (Vinyl, LP, Album), In The Shit - FaltyDL - In The Wild (Vinyl, LP, Album), Oneness (Colliding Stars Remix) - Saint Of Sin - Til Dawn (File, Album), Ich Kriege Dich - Deadly T - Die Hyänen Lachen Solange, Bis Sie Den Schlafenden Löwen Wecken (CD, Al, Otázniky - Zóna A - Nie Je To Tak Zlé (CD, Album), Storm - Michael Brückner - Earthed/Unearthed (CDr), Pre-Show Film - Morrissey - 2 Shows In Tokyo 2016 (CDr), Šejn - Haustor - 1981. 1984. 1985. 1988. (CD), Peace Of Mind (Edit), Untitled

8 thoughts on “Katakanlah - Elfas Singers - Aku Jatuh Cinta (Cassette, Album)

  1. Elfa's Singers - Aku Jatuh CintaTalk show malam yang akan memberikan informasi dan hiburan, bersama Vincent, Desta dan Hesti Purwadinata serta bintang tam.

  2. Apr 20,  · Elfa’s Singers – Aku Jatuh Cinta () April 21, oleh nophanyahya. review: Album Elfa dgn formasi 4 yg klasik. Yana Julio, Agus Wisman, Lita Zen & Rita Effendy, mungkin bisa kita sebut Manhattan Transfer nya Indonesia. Mungkin pada saat itu, dan sampai saat ini jg, cuma mereka ini grup vokal harmoni yang paling berhasil dan paling Estimated Reading Time: 1 min.

  3. Elfa's Singers - Aku Jatuh Cinta. Judul Album: Aku Jatuh Cinta. Penyanyi: Elfa’s Singers. Tahun Produksi: Produser: Indrawati Wijaya. Produksi: Musica Studio’s. Hampir setiap merilis album, formasi ELFA’S SINGERS pasti ada perubahan. Bisa jadi karena jarak rilis dari satu album ke album lain terhitung losandes.bizted Reading Time: 1 min.

  4. Mar 17,  · Penyanyi: Elfa's Singer. Musik: Elfa Secoria. Produksi: Musica Studio's. Tahun: Kelompok vokal nomor wahid Indonesia ini menyanyikan lagu-lagu lama dengan manisnya. ELFA SINGER'S yang kali ini terdiri dari YANA YULIO, AGUS WISMAN, LITA ZEN dan RITA EFFENDY tak lupa juga menyertakan lagu baru AKU JATUH CINTA. SIDE A.

  5. Lirik "Aku Cinta Padamu" dari Elfa's Singers ini dipublikasikan pada tanggal 8 Agustus (5 tahun yang lalu).Lagu ini ada di dalam album Timeless yang didistribusikan oleh label RPM. Berikut cuplikan syair nyanyian / teks dari lagunya: "tetapi dikau bagaikan air yang membeku / haruskah aku berikrar lagi tuk yang keseribu kali aku cinta padamu sungguh / aku cinta .

  6. Feb 29,  · Jakarta (ANTARA News) - Grup vokal Elfa's Singer mengeluarkan karya terbaru mereka dalam album "Timeless" setelah delapan tahun. "Dengan segala perjuangan, bersama semua dari pemilihan lagu, musik," kata Lita Zen saat peluncuran album ini di Jakarta. Lita, Agus Wisman, Yana Julio dan Ucie Nurul terakhir kali mengeluarkan "Sing The Best" pada.

  7. Lirik "Cinta Pertama" dari Elfa's Singers ini dipublikasikan pada tanggal 8 Agustus (5 tahun yang lalu).Lagu ini ada di dalam album Timeless yang didistribusikan oleh label RPM. Berikut cuplikan syair nyanyian / teks dari lagunya: "bagai merpati sejoli / berpandangan bertatapan / bagai merpati sejoli / berpasangan di persimpangan kasih bibirmu merah delima / aku .

  8. Feb 29,  · Elfa's Singers menangis saat buat album baru Senin, 29 Februari WIB Grup vokal Elfa's Singers dari kiri ke kanan: Agus Wisman, Lita .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *